Saturday, January 4, 2014

Ratu Safiatuddin - Raja Perempuan Aceh Islamis Terbilang

Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah. Anak tertua dari Sultan Iskandar Muda dan dilahirkan pada tahun 1612 dengan nama Putri Sri Alam. Safiatud-din Tajul-’Alam memiliki arti “kemurnian iman, mahkota dunia.”

Baginda memerintah antara tahun 1641-1675. Diceritakan bahwa ia gemar mengarang sajak dan cerita serta membantu berdirinya perpustakaan di negerinya. Safiatuddin meninggal pada tanggal 23 Oktober 1675.

Sebelum baginda menjadi sultanah, Aceh dipimpin oleh suaminya, yaitu Sultan Iskandar Tsani (1637-1641). Setelah Iskandar Tsani wafat amatlah sulit untuk mencari pengganti laki-laki yang masih berhubungan keluarga dekat. Terjadi kericuhan dalam mencari penggantinya. Kaum Ulama dan Wujudiah tidak menyetujui jika perempuan menjadi raja dengan alasan-alasan tertentu.

Kemudian seorang Ulama Besar, Nurudin Ar Raniri, menengahi kericuhan itu dengan menolak argumen-argumen kaum Ulama, sehingga Sultana Safiatuddin diangkat menjadi sultana. Sultanah Safiatuddin memerintah selama 35 tahun, dan membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut berperang dalam Perang Malaka tahun 1639. Ia juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah dari kerajaan.

Sejarah pemerintahan Sultanah Safiatuddin dapat dibaca dari catatan para musafir Portugis, Perancis, Inggris dan Belanda. Ia menjalankan pemerintahan dengan bijak, cakap dan cerdas. Pada pemerintahannya hukum, adat dan sastra berkembang baik. Dia memerintah pada masa-masa yang paling sulit karena Malaka diperebutkan antara VOC dengan Portugis. Dia dihormati oleh rakyatnya dan disegani Belanda, Portugis, Inggris, India dan Arab.

Pada masa pemerintahannya yang terdapat dua orang ulama penasehat negara (mufti) yaitu, Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf Singkil yang bergelar Teungku Syiah Kuala. Atas permintaan Ratu, Nuruddin menulis buku berjudul Hidayatul Imam yang ditujukan bagi kepentingan rakyat umum, dan atas permintaan Ratu pula, Abdurrauf Singkil menulis buku berjudul Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab, untuk menjadi pedoman bagi para qadhi dalam menjalankan tugasnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa ratu Safiatuddin bukan saja mengutamakan kesejahteraan negerinya tetapi juga berusaha menjalankan pemerintahannya sesuai dengan hukum Islam.

Syeikh Nuruddin Ar-Raniry dalam bukunya Bustanus Salatin menyebut bahawa;

Bandar Acheh Darussalam masa pemerintahan Ratu Safiatuddin terlalu makmur, dan makanan pun sangat murah, dan segala manusiapun dalam kesentosaan dan mengikut barang sabdanya.Dan ialah yang adil pada segala barang hukumnya, dan tawakkal pada segala barang pekerjaannya, dan sabar pada segala barang halnya, lagi mengerasi segala yang durhaka. Dan ialah haibat pada kelakuannya, dan bijaksana pada segala barang perkataannya, dan lagi lembut perangainya, dan pengasih akan segala rakyatnya dan lagi syafaat akan segala fakir dan miskin.

Dan ialah yang mengasihi dan menghormati akan segala ulama dan anak cucu Rasulullah s.a.w yang datang ke Bandar Aceh Darussalam serta dikurnianya dengan sempurnanya;

Dan ialah Raja yang tinggi hematnya, dan amat sangat murahnya.

Hasil suntingan daripada aneukacehseluruhdunia dan buletin rakyat 15 januari 2013
oleh GeloraHatiMuda

Kepimpinan berasaskan Islam dengan berpandukan bimbingan ulama yang arif jelas sekali menjamin kemakmuran, keselamatan dan berdaya maju. Pelbagai alasan digunakan pemimpin-pemimpin dunia Islam hari ini yang menolak kepimpinan ulama tidak dapat diterima. Kekalutan dan kebankrapan moral yang dihadapi masyarakat terutama di Malaysia negara tercinta amat menduka citakan.


Guan Eng Reject Hasrat Soi Leck Join DAP



adios

No comments:

Post a Comment